Archive for June, 2008

Apa Lo?

Sunday, June 29th, 2008

Tadi siang, gua pergi bikin pasfoto dengan rambut baru gua, abis selesai difoto, hasilnya baru bisa diambil sekitar satu jam, jadinya gua duduk sambil beli sarapan dengan rambut baru gua, iseng ga ada kerjaan, gua buka eBuddy, masih dengan rambut baru gua. Di eBuddy, gua ngobrol sama Gama "FTTM ITB 2008" Adam. Oh iya, waktu itu gua lagi jalan sama Gama, terus diteriakin sama orang cewe 17 taunan, "GAMA!", pas Gama nengok, tuh cewek ngomong "eh sori, gua kira Afgan", anjir, ga lucu.

Ok, kita ngobrol ngalor ngidul, mulai dari singkatan SBPT (Saya Bukan Pak Toni), besarnya rasa sayang gua sama dia dan sebaliknya, tingkat kecepatan reaksi suatu larutan Asam Semut dengan Asam Cuka, sampe akhirnya ngomongin orang ribut. Orang beberapa detik sebelom ribut, cenderung dimulai dengan kata kata, "APA LO?" yang diucapkan dengan intonasi marah, kesal dan terburu buru, terkadang sambil ngeliat jam, khawatir ketinggalan jam makan siang. Orang ribut ke dua, bakal menjawab dengan pertanyaan yang sama "APA LO?", kemudian baku hantam dimulai dengan sengit.

Padahal, apabila ditelaah menggunakan akal sehat, pertanyaan ‘apa lo?’ sangatlah ambigu. Apa yang diharapkan penanya saat dia melontarkan pertanyaan tersebut? Coba ya, pas lo lagi tenang, ada yang nanya, "Apa lo?", lo mau jawab apa? Dia sendiri gatau musuhnya harus jawab apa.

Sebetulnya, keujungan ribut dan pertempuran, amatlah tergantung dari jawaban pertanyaan diatas. Contoh:

Penanya: "Apa lo?" -> diucapkan dengan marah
Ditanya: "Apa yaaa" -> dijawab dengan imut, tangan dibibir, mata mengerling
Hasil: Apabila penanya adalah orang yang pemarah, jawabannya adalah "Bacot lo nyet!", diakhiri dengan baku hantam seadanya.

Contoh 2:
Penanya: "Apa lo?"
Ditanya: "Ada deh!" -> dijawab dengan mengedipkan sebelah mata
Hasil: Idem dengan contoh 1, perbedaan terletak pada lokasi lebam

Contoh 3:
Penanya: "Apa lo?" -> masih dengan emosi dan nafas terengah seperti banteng
Ditanya: "It depends on what you want me to be, my friend, I could be anything you want me to be"
Hasil: Penanya akan terhenyak, memberi waktu bagi ditanya untuk melancarkan serangan pertama.

Contoh 4:
Penanya: "Apa lo?" -> emosi, niat memukul sudah sampai diubun ubun
Ditanya: "Apa persamaan Diponegoro dan Cut Nyak Dien?" -> dilontarkan dengan tegas dan rahang yang terkatup rapat, tidak lupa tangan mengepal keras
Hasil: "Sama sama ga punya handphone"

Contoh 5:
Begitu liat bibir dia bergerak, elo harus langsung teriak
Elo: "Yang ngomong abis gua monyet!" -> abis selesai ngomong, langsung tutup mulut lo dengan gerakan yang anggun
Dia: "Apa lo?" -> biasanya dilanjutkan dengan menggenggam keras kerah bajulo
Elo (berteriak): "GUA GA BAWA PISANG!"
Hasil: Mungkin lo dipukulin, tapi minimal dia mengakui bahwa dirinya monyet, berbanggalah

Contoh 6:
Dia: "Apa lo?"
Elo: "Berapa 8 + 6 x 3?"
Hasil: 26

Kalo lo mau, ada satu cara dimana lo bisa menghajar musuh lebih cepat dan telak, lo cuman perlu tangan yang lentur dan mulut yang cepat, ini disebut dengan Combo Mulut & Pukulan.

Dia: "Apa Lo?" -> marah, terlihat kokoh dan tidak mudah menyerah
Elo: "Bagai berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi" -> sambil pukul ulu hati
Dia: (Terhempas mundur)
Elo: "Bagai menegakkan benang basah!" -> nendang pake kaki kanan
Dia: AH! (Terdorong menuju kekalahan)
Elo: "Sekali mendayung 2 / 3 pulau terlampaui" -> serang pake sikut kiri lo
Dia: (Mulai terjatuh, terlihat akan tumbang)
Elo: "Burung gereja terbang bergerombol, HANYA ELANG TERBANG SENDIRI!" -> bagian terakhir harus lantang dan diiringi pukulan terakhir yang gemilang
Hasil: Ga cuman menang, elo juga bakal dinilai sebagai pujangga yang romantis

Happy Trying / Sensei* (coret yang tidak perlu)

Testosteron

Saturday, June 14th, 2008

Ditilik dari judul, terlihat sangat impresif, tapi yang mau gua ceritakan disini, bukanlah megenai hormon, tapi tentang salah satu tes masuk perguruan tinggi yang disebut Ujian Masuk Bersama UI / UMB UI.

Pada UMB UI, gua memilih 2 jurusan dari golongan IPA, Teknik Industri dan Metalurgi. Kenapa? Karena setelah gua hitung dan bandingkan, peluangnya cukup meyakinkan, kurang lebih 1 : 10.

Tes dijalankan pada tanggal 7 - 8 Juni, lokasinya di SMK 29, dikenal pula dengan sebutan SMK Penerbangan, karena ga tau tesnya jam berapa, gua dateng jam setengah 7, terus nyari ruangan, setelah nanya ke orang orang, tes mulai jam 8, masih ada 1 setengah jam lagi, gua balik ke mobil dan tidur.

Tes hari pertama adalah kemampuan dasar, begitu gua masuk ke gedung tes, udah mulai rame dan banyak anak anak 28 disitu, padahal baru jam 7, tesnya aja mulai jam 8. Gua kebagian di ruang 5, bareng Obed, Dirga sama Icha Jilbab. Jam mulainya ngaret, katanya mulai jam 8, ternyata baru mulai jam 9. Soal dibagiin, isinya ada 75 soal, waktunya cuman 2 setengah jam kalo ga salah. Gua ngerjain semuanya dalam 2 jam, masih lebih setengah jam, disaat kaya gini, gua inget ajaran Dodop waktu gua mau ikut USM ITB, "pas lo tes Krepplin (angka haram bejejer, disuruh dijumlah), sebisa mungkin lo bikin orang lain mental down dulu, misalnya lo balik kertasnya sampe bunyi kresek kresek, biar orang lain panik sendiri", inget kaya gitu, gua juga mau bikin anak anak ruang 5 mental down, tapi gua bingung mau gimana, kalo gua bolak balik soal ampe kresek kresek, yang ada malah gua dianggap gila.

Di situasi kaya gitu, gua menemukan sebuah ide, kebetulan di ruangan gua jam nya dibelakang peserta, jadinya gua nengok nengok kebelakang terus, biar disangka cepet selesai dan pengen cepet pulang, padahal gua juga ga yakin sama jawaban gua sendiri, yang penting orang lain mental down.

Hari kedua, kemampuan IPA, sama kaya kemaren, gua selesai sebelum bel keluar bunyi, dan sama kaya kemaren, gua mikir gimana bikin peserta yang lain mental down, apalagi setelah ngeliat soalnya susah. Entah ada ide brilian dari mana, gua menemukan sebuah gerakan baru yang bisa bikin peserta lain gugup, rencana gua kali ini gua kasih nilai 8 / 10.

Caranya, gua taro soal dan jawaban di sudut kiri atas meja, tangan kanan gua lurusin di sisi kanan meja, tangan kiri gua lipet sebagai bantalan, yang terakhir, kepala gua tidurin, kemudian gua mulai memejamkan mata. Seolah olah soal ujian membuat gua bosen sampe ngantuk, padahal aslinya gua mau nangis darah liat soal fisikanya. Setelah gua mulai bosen, gua bangun dan pasang muka sok sok ngantuk, gua ngambil pensil, terus pensilnya gua puter puter di jari. Bosen, gua tiduran lagi sambil ngebayangin orang yang liat, pasti orang itu bakal mikir, "gila tuh anak, sempet sempetnya tiduran, padahal soalnya susah, pasti pinter tuh anak".

Sebenernya waktu USM ITB 1, ada orang yang kaya gitu di ruangan gua, nengok nengok ke arah jam mulu, padahal gua langsung mikir dia liat jam karena ga bisa ngerjain, makanya pengen cepet cepet pulang, semoga aja ga ada yang mikir kaya gua dulu di ruang 5, semoga kita diterima di jurusan yang diinginkan, amin.

Mistis Materai

Thursday, June 5th, 2008

Hola Jakarta.

Sesuai judul diatas, gua inget pas Ujian Saringan Mandiri (USM) ITB Terpusat, gua membuat sebuah humor kecil.
Pas lo mendaftar, lo akan menerima 3 lembar kertas persetujuan, Persetujuan Membayar 1 lembar dan 2 sisanya Lembar Tata Tertib, semuanya harus ditanda tangan di atas materai 6000. Nah, pas tanggal 26, gua berangkat ke Bandung jam 5 pagi, padahal giliran gua jam 8. Sampe ITB, gua sarapan bubur, terus duduk menunggu, sambil mikir antara FTTM atau FTSL.

Pas jam 8 kurang, gerbang udah dibuka, terus ngantri gitu, tapi ngantrinya dikorsi, pas petugasnya nyuruh kita ngecek ulang, ada cewe disebelah gua teriak kecentilan "Kak, yang ini perlu ditanda tangan juga?", sambil ngangkat kertas Tata Tertib dengan muka panik. Begitu tau harus diisi, mukanya makin panik, begitu tau dia ga bawa matere, mukanya udah melaaas banget. Abis itu, kakak yang tadi nyuruh dia buat beli matere diluar.

Disaat seperti itu, bangun kepagian ditambah bubur ayam, mulai mengeluarkan reaksi nya, gua berniat ngisengin dikit, dikiiit banget. Sekedar pemuasan batin udah lama ga kesekolah.

Pas ga ada yang liat, dideket bolpen si cewek panik, yang kebetulan duduk dua korsi disebelah gua, karena korsi disebelah kanan gua persis basah, gua taro materai ekstra gua, sambil senyam senyum.

Waktu berjalan, gua maju dan nyerahin formulir, si cewe balik, terus gua denger dia teriak "LAAH, INI MATERAI SIAPA? KOK TAU TAU ADA?".